oleh

75 Tahun Indonesia Merdeka. Opini Malika Dwi Ana

75 Tahun Indonesia Merdeka. Catatan Kecil Pojok Warung Kopi Ndeso

Ditulis oleh: Malika Dwi Ana, Pengamat Sosial Politik.

Konon 350 tahun terjajah sebagai bangsa seperti dikisahkan dalam buku-buku sejarah. Tapi 1908 baru terjadi konsensus bersama sehingga terbentuklah suatu bangsa yang disebut Indonesia. Dan 17 Agustus 1945 baru memproklamirkan diri sebagai negara, sehingga usia Negara Republik Indonesia (NRI) baru 75 tahun.

Artinya, sebagai negara, NRI sebenarnya tidak pernah dijajah. NRI hanya sibuk berkecimpung di dalam pergulatan politik dan ideologi serta jatidirinya sampai dengan saat ini.

Usia 75 tahun itu tergolong kewut alias tuwa. Diumur ini, manusia harusnya mengerti jejere manungsa, mengenal Jatidirinya, mengenal siapa ruh yang menempati wadah (wadag) fisiknya. Mengenal visi misi atau tujuan hidupnya; dari mana berasal, dan akan kembali kemana. Atau disebut mengenal sangkan paran ing dumadi.

Disebut mengenali dirinya semisal sakit, dia akan mengenali penyakit yang menjangkitinya berikut cara mengatasinya. Saat migrainnya kambuh misalnya, ia akan mengerti untuk sesegera meminum analgesik, obat penahan rasa nyeri yang menunda kesakitan, meski tidak menyembuhkan. Atau saat sakit gigi, dia paham harus melakukan apa untuk mengatasi nyerinya.

Jatidiri akan terbentuk manakala jiwa berhasil mengatasi kesulitan yang hampir-hampir membuatnya gila.

Sebagai negara, seharusnya bisa disandingkan dengan analogi soal manusia berusia 75 tahun. Pernah dikoyak-koyak disintegrasi karena pergulatan ideologi dan politik, lucunya pergulatan itu tidak pernah selesai meski sudah ada konsensus bersama yang disebut Pancasila, dan ketagihan rasa sakit itu diulang-ulang terus. Pernah ketipu di meja perundingan dan kehilangan banyak asset, Dan ketipu itu sialnya diulang-ulang seperti tak pernah belajar hikmahnya kehilangan. Entah karena bodoh atau lugu atau terlalu mulia hatinya, maka sindroma Stockholm sepertinya sangat cocok untuk menyebut kondisi sakit mental ketagihan rasa sakit dijajah dan ditindas tersebut.

Ibarat sudah kanker, pendarahan, gegar otak, dan sakit komplikasi tapi tidak pernah menyadari bahwa dirinya sakit parah. Disana-sini berkoar tentang dirinya yang sehat, kuat dan waras. Tapi literally, pengungkapan bahwa dirinya sehat justru membuka fakta bahwa dirinya sakit. Sudah sakit, baperan lagi… Ibarat, wes susah, mêlarat, ngamukan pisan!

Dalam dirinya terjadi pertarungan yang tak ada habis-habisnya, antara nurani dan nafsunya. Nafsu pengen diakui selama 75 tahun sudah berdiri tegak, kuat, merdeka dan berdaulat. Realitasnya? Ya bingung, dan galau tak berkesudahan. Bangga menjadi bangsa yang kebarat-baratan, keindia-indiaan, kearab-araban, serta kechina-chinaan, kekorea-koreaan… Kepengen diakui sebagaimana bangsa idolanya. 75 tahun tapi pubernya gak selesai-selesai, tak kunjung anteng, meneng, seneng lan sugeng….settle, tenang, tentram, selamat, mulia dan menjadi bijaksana.

Sindrom inferioritas akut ini menjangkiti dihampir seluruh aspek, hingga yang notabene datang dari luar “dipaksakan” diaku-aku sebagai identitas dirinya. Hingga apapun yang impor dipandang sebagai kualitas super ketimbang yang lokal. Yang menyakitkan adalah TKA dianggap lebih berharga dan berkeahlian dibanding tenaga kerja lokal.

Bahkan pada nasionalismenya…. sangat keblinger. “Cintailah Ploduk-Ploduk Indonesia”, maksudnya cintailah produk-produk yang pabriknya disini, gak peduli pemiliknya mau China, Perancis, Inggris, Amrik, New Zealand, malaikat, peri, jin atau setan belang. Soal barangnya ya sama saja, tapi resepnya, mesinnya, sistem distribusinya, dan lain-lain ya buatan sono. Artinya apa, industri berikut residunya, dibuang di sini dan konsumennya ya kita-kita sendiri. Sedih kan…

Dahulu, Althenasius Uskup Alexandria di Abad IV, berjuang melawan Bidat (sebagai upaya Reformasi) Arianisme (yang juga didukung kepentingan politik-bisnis pada era Kaisar Romawi Constantius), terhadap Dogma Gereja diawal Perjanjian Baru. Problem utamanya perbedaan makna yang terletak pada satu huruf dalam kata homoousios (same essence/being), yang diganti oleh para Arianisme dengan homoiousios (of a similar substance) terhadap Keillahian Yesus Kristus yg dikukuhkan pada Kredo Nicea.

Perjuangan Althenasius berat dan penuh derita panjang terbukti merupakan bagian tetap tegaknya dogma gereja tersebut. Sejarah mencatat terjadi kegoncangan dalam kehidupan gereja dan kemasyarakatan di Eropa saat itu.

Refleksi dalam Sejarah Eropa tersebut barangkali bisa ditemukan similaritasnya pada Reformasi kita, yaitu pada perubahan kata yang sama seperti disebut di atas:
1. MPR yang sebelumnya merupakan Lembaga Tertinggi menjadi hanya Lembaga Tinggi;
2. Keterwakilan diganti dengan Keterpilihan;
3. Demokrasi kita yang lewat Permusyawaratan dan permufakatan diganti dengan ala Demokrasi yang lebih liberal ketimbang di negara asalnya sana;
4. Penambahan kata Efisiensi di Pasal 33 UUD 1945 Amandemen merubah prinsip ekonomi kita menjadi kapitalistik.

Hal ini bukan saja menjadikan sistem ketatanegaraan menjadi amburadul, lembaga-lembaga maupun undang-undang turunannya berbenturan, juga sistem nilai termasuk budaya berbangsa jadi berantakan karena tercerabut dari jatidiri budaya berbangsa – bernegara seperti dicita-citakan Proklamasi dan The Founding Fathers Bangsa Indonesia.

75 tahun dilanda kepikunan dan kebingungan tanpa akhir.

Loading...

Baca Juga