oleh

Indonesia Butuh Konser Virtual atau Taubat Kolektif? Opini Djumriah L J

700 Covid FB

Indonesia Butuh Konser Virtual atau Taubat Kolektif? Oleh: Djumriah Lina Johan, Praktisi Pendidikan dan Pemerhati Sosial Ekonomi Islam.

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo mengajak masyarakat menyaksikan konser virtual ‘Berbagi Kasih Bersama Bimbo’ yang disiarkan secara langsung dari studio TVRI, Minggu 17 Mei 2020, pukul 19.30 – 22.00 WIB. Konser ini akan di-relay oleh stasiun televisi swasta di Indonesia, yaitu INews, NetTV, Metro TV, OChannel, SCTV, Indosiar, ANTV. Masyarakat bisa menyaksikan konser virtual ini melalui layar kaca.

“Mulai dari seniman, tokoh bangsa, hingga pemimpin negara akan ikut bernyanyi bersama dalam konser virtual ‘Berbagi Kasih Bersama Bimbo’ dari tempat mereka masing-masing. Dalam konser virtual nanti, kita galang donasi dari presiden dan pejabat lainnya serta masyarakat sebagai bentuk gotong royong untuk para seniman dan para pekerja seni yang terdampak pandemi Covid-19,” ujar Bamsoet di Jakarta, Sabtu (16/5).
(Republika.co.id, Sabtu, 16/5/2020)

Adanya konser virtual yang ditengarai oleh MPR RI, BPIP, dan BNPB, menunjukkan bahwa :

Pertama, negara hadir. Sebagaimana ucapan mantan Ketua DPR, adanya acara ini untuk memperlihatkan bahwa negara hadir dalam membantu masyarakat menghadapi pandemi Covid-19. Namun, cukup disayangkan. Sejatinya untuk memperlihatkan kehadiran negara dalam menanggulangi wabah bukan dengan cara mengadakan konser. Melainkan dengan memberikan bantuan langsung berupa pemenuhan kebutuhan hidup serta memaksimalkan upaya memisahkan antara yang sakit dengan yang sehat menggunakan fasilitas penunjang kesehatan terbaik.

Kedua, solidaritas pemimpin. Pada hakikatnya apa yang dibutuhkan rakyat bukanlah solidaritas pemimpin namun pemimpin yang bertanggung jawab penuh serta amanah dalam menjalankan perannya sebagai orang dengan jabatan tertinggi di negeri ini. Apalagi adanya beban amanah dipundak para pejabat harusnya membuat mereka bekerja keras menyejahterakan seluruh rakyat Indonesia bukan hanya seniman, para pekerja seni, maupun korporasi.

700 Covid FB

Ketiga, peduli melawan Covid-19. Sounding kepedulian dengan wujud konser pun tak tepat sasaran. Jikalau memang negara, pemimpin, dan para pejabat sungguh-sungguh peduli, tunjukkan dengan amal perbuatan. Sediakan fasilitas screening untuk seluruh rakyat Indonesia secara gratis. Penuhi fasilitas kesehatan rumah sakit dengan kualitas terbaik.

Berikan jaminan pemenuhan gizi yang sehat dan seimbang bagi masyarakat agar sistem imunnya kuat. Upayakan pengadaan internet gratis dengan kekuatan jaringan yang stabil. Tentu jika langkah-langkah ini diwujudkan tanpa perlu pencitraan, rakyat akan melihat bahwa negara benar peduli.

Keempat, gotong royong. Realitasnya dengan upaya menggelorakan semangat gotong royong untuk membantu sesama dengan mengadakan konser ini malah semakin menegaskan upaya cuci tangan Pemerintah akan nasib rakyat. Pemerintah secara terang-terangan menyerahkan amanah tersebut kepada anggota masyarat. Jelas ini adalah bentuk kezaliman.

Kelima, kebutuhan hakiki. Sejatinya jikalau masih ada setitik keimanan di hati pemimpin maupun para pejabat, kebutuhan hakiki umat di tengah wabah yang tak kunjung berakhir ini ialah ajakan untuk taubat kolektif. Kembali kepada aturan Allah SWT. Karena hanya dengan meminta dan memohon ampun kepada Allah-lah makhluk kecil bernama Covid-19 itu kembali ke asalnya.

Keenam, kerusakan sekulerisme. Inilah wujud nyata ide sesat sekulerisme. Di tengah upaya kaum Muslimin bermunajat kepada Allah di sepuluh malam terakhir Ramadhan, memohon ampun dan meminta diangkatnya virus. Pemimpin serta para pejabat justru bersuka cita. Sangat kontras dengan para pemimpin di era pemerintahan Islam yang senantiasa takut dimintai pertanggungjawaban atas amanah kepemimpinan oleh Allah SWT.

Dengan demikian, masihkah kita ingin hidup di bawah kepemimpinan yang seperti ini? Kepemimpinan yang hanya mementingkan kemaslahatan para kapitalis dan elit politik di sekitarnya. Kepemimpinan yang enggan menerapkan hukum-hukum Allah. Sudah saatnya Islam kembali sebagai solusi atas setiap permasalahan umat. Karena hanya dengannya rakyat tentram, sejahtera, serta dikaruniai keberkahan dari langit dan bumi. Wallahu a’lam bish shawab.

Loading...

Baca Juga