oleh

Kepala Suku Se-Sorong Raya Minta Rektor UMS Tidak Diganti

700 Covid FB

FOKUSBERITA.ID – Civitas akademika Universitas Muhammadiyah Sorong (UMS) menentang keras tidak diperpanjangnya masa jabatan Dr H Hermanto Suaib MM sebagai Rektor UMS oleh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah. Hermanto Suaib dianggap sebagai figur yang paling layak untuk memimpin UMS, karena dicintai oleh kalangan kampus baik Orang Asli Papua (OAP) maupun non OAP. Ia juga disebut dihormati oleh masyarakat dan seluruh kepala suku di wilayah Sorong karena keberhasilannya di bidang pendidikan.

Penolakan ini dibenarkan oleh Presiden Mahasiswa (Presma) UMS Abu Kelian, di kampus UMS, Rabu (15/4/2020). Ia menjelaskan, Dr H Hermanto Suaib MM adalah Rektor UMS masa jabatan 2016-2020. Berdasarkan Surat Keputusan PP Muhammadiyah 2935/KEP/1.0/D/2020, jabatan rektor UMS masa jabatan 2020-2024 diberikan kepada DR Muhammad Ali MM MH.

“Saya selaku Presma UMS beserta seluruh Mahasiswa UMS menolak SK PP Muhammadiyah 2935/KEP/1.0/D/2020. SK tersebut bertentangan dengan keputusan Rapat Senat. Kami seluruh mahasiswa akan melakukan penolakan, walaupun harus berlinangan darah,” kata Abu Kelian.

Ia menegaskan, penolakan ini bukan saja dilakukan oleh seluruh mahasiswa, tetapi juga seluruh Dekan dan beberapa Dosen UMS. Mereka ikut menandatangani Petisi menolak penggantian rektor UMS pada kain putih yang dibentangkan di kampus. Abu Kelian mengaku aksi penolakan ini juga mendapat dukungan dari seluruh kepala suku di wilayah Sorong. Seluruh Kepala Suku Asli Papua yang ada di Sorong Raya juga disebut siap menggelar aksi dalam berbagai bentuk.

“Sehingga apabila tidak disikapi secara arif dan bijaksana oleh PP Muhammadiyah, maka akan berdampak terhadap kelangsungan proses belajar mengajar di kampus. Sebab aksi ini tidak akan berhenti bahkan akan lebih brutal. Karena akan melibatkan seluruh kepala-kepala suku asli Papua yang ada di Sorong Raya. Kendati kondisi bangsa saat ini dilanda bencana akibat covid 19,” tegas Abu Kelian.

Pernyataan senada juga disampaikan oleh mahasiswa asli Papua dari suku Moi Onim Gefilem. Ia menegaskan bahwa suku Moi adalah pemilik hak adat tanah ulayat di lokasi kampus UMS. Ia menyatakan suku Moi akan melakukan aksi pemalangan di pintu masuk hingga SK tersebut dicabut.

“Kalau PP muhammadiyah tidak segera mencabut SK 2935/KEP/1.0/D/2020. Maka kami selaku pewaris hak tanah adat yang saat ini berdiri kampus UMS, akan melakukan pemalangan,” ujar Onim Gefilem.

Lanjutnya, upaya ini dilakukan karena Hermanto Suaib sangat peduli dengan mahasiwa UMS. Kepedulian Hermanto Suaib ini secara nyata dirasakan oleh para mahasiswa suku Moi dan suku-suku Papua lainnya, serta mahasiswa dari suku non Papua. Karenanya, sangat wajar menurutnya jika melihat perlakuan yang dianggap semena-mena PP Muhammadiya terhadap rektor UMS ini membuat mahasiwa menjadi geram dan sangat marah.

700 Covid FB

“Bahkan orang tua kami yang merupakan tokoh-tokoh asli suku Papua ikut memberikan dukungan dan seruan terhadap langkah kami. Untuk melakukan aksi dan pemalangan hingga dicabut SK tersebut,” tegas Onim Gefilem.

Salah satu alumni UMS Kifli Rahayamtel merasa sikap mahasiswa tersebut sangat beralasan. Menurutnya, Hermanto Suaib dikenal sebagai sosok yang kharismatik, kebapakan dan dapat merangkul semua etnis dan golongan. Hal inilah yang membuat mahasiswa dan tokoh-tokoh adat suku asli Papua sangat menghormati rektor UMS 2016-2020 tersebut.

“Sehingga UMS yang dahulunya adalah STIA Al AMIN dan UNAMIN mengalami peningkatan yang sangat signifikan seperti saat ini, tanpa ada hambatan dari pemilik hak ulayat tanah adat. Disisi lainnya, UMS menjadi produk lahirnya generasi-generasi Papua yang berkualitas dan sangat nasionalis,” kata Kifli Rahayamtel.

Kalimat senada juga disampaikan oleh mantan Presma UMS yang juga tokoh muda Papua Simon Morits. Menurutnya, keberadaan Hermanto Suaib menjadi payung bagi anak-anak asli suku Papua. Ia mengingatkan, selama ini Hermanto Suaib yang mendirikan, merintis dan membesarkan kampus UMS menjadi megah seperti saat ini.

“Sumber daya manusia anak Papua diasah menjadi berkualitas. Sehingga apabila beliau didzalimi, maka sudah tentu semua elemen akan tergerak hati dan langkahnya utk membantu. Siapapun tidak akan tega orang tuanya didzalimi Begitu pun kami yang alumni ini. Dan sudah tentu juga mahasiswa asli suku Papua dan non Papua lainnya,” kata Simon Morits.

Ia sangat menyayangkan dikeluarkannya SK penggantian Rektor UMS tersebut. Menurutnya, kejadian ini seharusnya tidak terjadi jika para pimpinan Muhammadiyah cerdas melihat kondisi pendidikan di Tanah Papua.

Kami butuh sosok yang bisa mengayomi dan punya keinginan yang tinggi untuk membangun dunia pendidikan di Tanah Papua. Hal itu di buktikan oleh DR. H. Hermanto Suaib. Sehingga hari ini UMS menjadi perguruan tinggi terbesar kedua di Tanah Papua dan menghasilkan SDM yang berkualitas. Baik dalam ruang-ruang birokrasi ataupun dalam profesi lainnya,” tutup Simon Morits. (OSY)

Loading...

Baca Juga