oleh

Pergerakan Islam Mengawali Sejarah Terbentuknya NRI. Opini Malika

Pergerakan Islam Mengawali Sejarah Terbentuknya NRI. Catatan Kecil Pojok Warung Kopi Ndéso.

Ditulis oleh: Malika Dwi Ana, Pengamat Sosial Politik.

Sejarah pergerakan awal terbentuknya negara dirintis oleh organisasi Islam, seperti Jami’atul Khair (1905), Syarikat Dagang Islam (1905), Syarikat Islam (1911), Muhammadiyah (1912), Al-Irsyad (1914), Persatuan Islam (1923), dan Nahdlatul Ulama (1926). Serta organisasi Islam lainnya yang tersebar di seluruh kepulauan Indonesia.

Dari Yogyakarta dimulailah pergerakan modern, kebangkitan nasional. Berawal dari rasa ingin survive di antara dominasi ekonomi Cina dan Belanda. Maka berdirilah Syarikat Dagang Islam yang dimotori oleh Haji Oemar Said Tjokroaminoto. Pemikiran HOS Tjokroaminoto yang mengarahkan enerji besar politik ke perjuangan ekonomi.

Beliau melahirkan Trilogi Idiologism (Semaoen, Kartosoewirja, dan Soekarno). Engsel sosialisme, teosofi, dan religi. Maka negara ini seperti Gus Baha’ bilang; “negara Indonesia bukan hanya milik anak turun Soekarno saja, tetapi milik seluruh bangsa Indonesia.”

Sejarah panjang pendirian negara mencatat bahwa umat muslim sebenarnya sudah sangat mengalah ketika negara ini di dasarkan pada dasar yang sekuler, bukan negara syariah, seperti Pancasila di versi Piagam Jakarta yang menyertakan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.

Pada kenyataannya, tanpa syariah, umat muslim akan menjadi tamu di rumahnya sendiri. Berdasarkan latarbelakang ini, orang seperti Hasan Tiro menghendaki adanya syariah. Itu juga sebabnya Haji Oemar Said Tjokroaminoto membentuk Sarikat Dagang Islam, bukan Syarikat Arab, tetapi syarikat perserikatan ekonomi Islam.Timbul semangat untuk mempelajari jejak langkah Hasan Tiro dan HOS Tjokroaminoto, karena melihat betapa hebatnya penjajahan modal yang terjadi sekarang ini. Sejak era Sarikat Islam, pranata Daulah Islam sudah menjadi alat perjuangan sosial dan ekonomi, yang berhubungan dengan penguasaan dan pemanfaatan lahan.

NRI (Negara Republik Indonesia) pada akhirnya adalah grand design pengakaran Islam dalam tubuh budaya Indonesia yang terdiri dari budaya penutur Bahasa Austronesia (Melayu) dan penutur Bahasa Sanskerta. Jika kita bicara NRI, maka kita akan bicara Ternate, Goa, Tidore, Jailolo, Aceh, Madura, Banten, Cirebon, Yogyakarta, dan itu artinya Islam adalah alat pemersatu kekuasaan di kepulauan-kepulauan Indonesia. Baru kemudian sistem administrasi Belanda yang mempersatukan.

Persoalan latar belakang syariat ini menjadi sangat pelik sampai ke sidang BPUPKI, dan akhirnya kita memilih Nation State, bukan Islamic State, ini adalah bentuk pengorbanan besar umat Islam bagi bangsa ini. Kesultanan-kesultanan Islam bersikap diam dan tenang, tunduk dan patuh terhadap NRI, bahkan mendukung terselenggaranya kestablian sosial politik NRI.

Pancasila versi 18 Agustus 1945 yang disepakati berlaku hingga kini, bukan Pancasila yang lain. Bukan Pancasila versi RUU HIP, bukan Tri Sila, bukan pula Ekasila satu ayat, Gotong Royong versi Bung Karno yang berpidato di depan PPKI kala itu tanggal, 1 Juni 1945. Bung Karno bicara dalam konteks kebangsaan, bukan kenegaraan. Alternatif Trisila atau Ekasila yang ditawarkan Bung Karno kemudian tidak dipakai. Maka ditanggal 18 Agustus 1945 inilah hari lahir Pancasila secara historis, sesuai kesepakatan para tokoh bangsa.

Dan hari ini kita menggunakan konstitusi UUD 1945 sebagai alat pemersatu, tentu saja nafas Islam ada di dalam konstitusi ini, begitupun warisan cara-cara Belanda mengelola administrasi kekuasaan. Ada pasal 29 UUD 45 yang disusun para pendiri bangsa, tertulis: “Negara berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.”

Juga penempatan Ketuhanan Yang Maha Esa di dalam pembukaan UUD 45 pada urutan pertama bukanlah tanpa makna, tentu saja (dimana kita tahu, Soekarno menempatkan sila Ketuhanan di bagian paling akhir dalam pidato 1 Juni 1945).

Rumusan Tim Lima yang dipimpin oleh Mohammad Hatta – proklamator kedua – saat menyusun buku Uraian Pancasila menyatakan:
“Dasar Ketuhanan Yang Maha Esa jadi dasar yang memimpin cita-cita kenegaraan kita, yang memberikan jiwa kepada usaha menyelenggarakan segala yang benar, adil dan baik, sedangkan dasar kemanusiaan yang adil dan beradab adalah kelanjutan dalam perbuatan dan praktik hidup dari dasar yang memimpin tadi”.

Dasar Ketuhanan Yang Maha Esa di bidang hukum adalah bahwa setiap putusan pengadilan agar mempunyai kekuatan eksekutorial harus mencantumkan klausa “Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”. Di sini kita dapat pahami bahwa Ketuhanan Yang Maha Esa merupakan hal yang paling fundamental bagi bangsa Indonesia.

Bahkan penempatan klausa “Demi Allah….” digunakan disetiap kali pejabat diambil sumpahnya. Artinya, para tokoh bangsa menginginkan agar kita selalu melibatkan Tuhan dalam segala aspek kehidupan kita berbangsa dan bernegara. Dari sini saja secara historis bangsa ini sebenarnya tidak punya mental sekuler sama sekali.

Bung Karno juga pernah berkata; “keunggulan Pancasila dibanding Komunis adalah Ketuhanan Yang Maha Esa, dan kelebihannya dibanding Piagam Kemerdekaan Amerika adalah Keadilan Sosial.”

Lalu kenapa tidak menggunakan nilai sendiri yang berbasis agama? Agama yang seharusnya menjadi sumber kekuatan berbangsa dan bernegara, Agama malah dicurigai hingga dijadikan bulan-bulanan demonologi untuk menakut-nakuti. Dijadikan propaganda kebohongan dengan stigmatisasi kepada umat beragama, dengan sebutan radikal dan intoleran. Ada yang alergi dengan agama, sehingga mereka berniat merubah Pancasila menjadi negara berdasarkan “Ketuhanan Yang Berkebudayaan,” di mana supremasi Tuhan hendak diganti dengan supremasi manusia.

Ideologi Komunis sudah dilarang di Indonesia melalui Tap MPRS No. 25 tahun 1966. Diperkuat dengan UU No. 27 tahun 1999. Bernegara itu harusnya mengacu pada aturan resmi, yaitu berdasarkan UUD 1945. Bukan berdasarkan opininya Denny Siregar atau Abu Janda.

Intinya, Indonesia menolak komunis. Sebodo teuing komunis dianggap sudah mati atau baru setengah mati. Selama para fans clubnya menggunakannya sebagai gerakan untuk mengganti Pancasila dan balas dendam, ya LAWAN!

Kopi_kir sendirilah!

Loading...

Baca Juga