oleh

Revolusi Akhlak vs Revolusi Mental. Opini Ahmad Khozinudin

Revolusi Akhlak vs Revolusi Mental. [Catatan Pengantar Diskusi Yuk Ngopi (Ngobrol Pemikiran Islam) Edisi 16]

Ditulis oleh: Ahmad Khozinudin SH, Advokat, Sastrawan Politik.

Pada Ahad, 22 Nopember 2020, Penulis diundang menjadi salah satu Nara Sumber dalam agenda Diskusi Yuk Ngopi (Ngobrol Pemikiran Islam) Edisi 16. Tema yang diangkat adalah ‘Revolusi Akhlak Vs Revolusi Mental’.

Penulis tidak mengetahui secara pasti, latar belakang diangkatnya tema diskusi. Termasuk kenapa justru Revolusi Akhlak dikonfrontasikan secara vis a vis dengan Revolusi Mental. Kenapa tidak diambil tema diskusi : Sinergi Antara Revolusi Akhlak dan Revolusi Mental untuk membangun masa depan bangsa Indonesia ?

Ide narasi Revolusi Mental berasal dari Jokowi. Meskipun, bukan pula ide orisinil dari Jokowi. Ide ini diadopsi dari Pidato Soekarno pada 17 Agustus 1956. Gerakan Revolusi Mental diklaim relevan bagi bangsa Indonesia yang sedang menghadapi intoleransi.

Adapun Gerakan Revolusi Akhlak dicetuskan oleh Habib Rizieq Shihab (HRS), dalam Acara Maulid Nabi Muhammad Saw 14 Nopember yang lalu, HRS menegaskan bahwa Revolusi Akhlak adalah suatu revolusi yang mengikuti jalan hidup Nabi Muhammad SAW. Bicara revoluasi akhlak berarti bicara revolisi yang berdiri tegak di atas Alquran dan sunnah nabi kita Syaidunna Muhammad SAW. Kenapa kita ingatkan revolusi akhlak, sebab nabi kita tidaklah diutus kecuali untuk menyempurnakan akhlak. Begitu jelasnya.

Soekarno sendiri adalah seorang tokoh yang juga mengagumi pemikiran sosialisme. Jika dirujuk, ide Revolusi Mental berasal dari Karl Marx, tokoh ideolog Sosialisme.

Revolusi mental pernah hidup abad 18 ketika tokoh besar Jerman Karl Marx, mengangkat istilah revolusi mental. Dalam pemikirannya, Karl Marx menyatakan yang harus direvolusi adalah mental kaum proletar agar menjadi progresif dan meniadakan struktur menindas dan membelenggu.

Karl Marx juga menilai, mental yang berangkat dari keyakinan keagamaan juga harus dimusnahkan. Meyakini Agama akan memundurkan, Agama adalah candu. Agama harus dijauhkan dari manusia.

Terlepas, ide Revolusi Mental itu telah mengalami sejumlah penyesuaian dan improve. Faktanya, akar ide Revolusi Mental berasal dari Marx yang atheis (anti tuhan). Mengalokasikan waktu untuk tuhan itu sia-sia, lebih baik waktu sepenuhnya untuk kerja, kerja dan kerja.

Jika ditilik dari ruh Revolusi Mental adalah sosialis, dan ciri utama ideologi sosialisme yang anti tuhan adalah tidak mengindahkan akhlak Islami. Sosialisme tak mewajibkan penganutnya agar jujur, setia, terpercaya dan amanah. Sementara, Ruh Revolusi Akhlak adalah Wahyu (Al Qur’an) dan akhlak yang bersumber dari Rasulullah Saw, yang menjunjung tinggi akhlak kejujuran, terpercaya, amanah dan tanggung jawab. Maka wajar, jika Revolusi Akhlak tak akan bisa bertemu apalagi bersinergi dengan Revolusi Mental.

Selamanya bahkan hingga hari kiamat, Al Haq yang bersumber dari akhlak Rasulullah Saw dan Al batil yang bersumber dari luar Islam termasuk dari Karl Marx, tak akan bisa berdamai apalagi bersinergi. Allah SWT telah menegaskan dalam Al Qur’an :

وَقُلْ جَآءَ ٱلْحَقُّ وَزَهَقَ ٱلْبَٰطِلُ ۚ إِنَّ ٱلْبَٰطِلَ كَانَ زَهُوقًا

Dan katakanlah: “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap”. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.

(QS : Al Isra ayat 81).

Ayat ini secara eksplisit maupun implisit menunjukkan betapa Al Haq tak mungkin bersinergi dengan Al Batil. Al Haq akan datang untuk menghilangkan kebatilan.

Penulis kira, itulah esensi tema yang diangkat. Semoga dalam diskusi tersebut, penulis dapat menghadirkan Al Haq dengan berbagai argumentasi, baik argumentasi faktual maupun argumentasi syar’i, agar kebatilan segera lenyap. Karena kebatilan, adalah sesuatu yang pasti akan lenyap dan binasa.

Loading...

Baca Juga