oleh

Sukses Reuni Akbar 212, Menerapkan Rumus Framing dan Black Out

700 Covid FB

Sukses Reuni Akbar 212, Pers Menerapkan Dua Rumus Framing dan Black Out. Oleh Hersubeno Arief, Pemerhati Politik.

Jutaan massa yang melakukan Reuni Akbar 212 di Monas berlangsung dengan tertib, aman dan damai serta kekhawatiran terhadap perlawanan dari pihak yang menentang acara Reuni Akbar 212 ini tak terbukti, Rabu, (5/12/2018).

Acara yang dimulai tepat pukul tiga dinihari dengan sholat tahajud berjama’ah hingga masuk subuh, berlangsung dengan penuh makna.

Sambutan dari Ketua Panitia Ustadz Bernard Abdul Jabar yang mengucapkan beribu-ribu terima kasih kepada khalayak yg telah membantu secara materiil maupun spirituil sehingga acara Reuni Akbar 212 ini berlangsung, dan semoga Allah Swt. membalasnya.

Kepada reporter seorang petugas keamanan yang enggan disebut namanya mengatakan bahwa, “Alhamdulillah acara Reuni Akbar 212 yang dilaksanakan ahad ini berlangsung dengan aman, tertib dan terkendali. Jamaah dari berbagai daerah selesai melaksanakan kegiatan di Monas, balik dengan teratur,” ungkapnya.

Sampah-sampah dibersihkan dan kamipun aparat keamanan berterimakasih kepada Panitia dan Umat Islam yang datang ke kegiatan Reuni Akbar 212 tersebut dan nampaknya masyarakat semakin cerdas bahwa keamanan adalah tanggung jawab kita bersama.

Para peserta Reuni Akbar 212 mulai meninggalkan Lapangan Monumen Nasional dan berjalan kaki menuju stasiun kereta terdekat seperti Stasiun Tanah Abang, Stasiun Gondangdia dan Juanda serta halte busway terdekat.

Beberapa dari mereka beranjak sebelum waktu Shalat Dzuhur, sementara lainnya menunggu menunaikan ibadah shalat dzuhur berjama’ah terlebih dahulu.

Namun pemberitaan madia massa tentang reuni 212 yang berlangsung di Monas Ahad (2/12/2018), membuka tabir yang slama ini coba ditutup – tutupi. Kooptasi penguasa, kepentingan idiologi, politik, dan bisnis membuat pers menerapkan dua rumus framing dan black out.

Peristiwa besar yang menjadi sorotan media – media internasional itu sama sekali tidak “menarik” dan tidak layak berita, bagi sebagian besar media nasional terbit di Jakarta.

Sejumlah pembaca Harian Kompas pada Senin, (4/12/2018) pagi dibuat terkejut ketika mendapati koran nasional itu sama sekali tidak memuat berita jutaan orang yang berkumpul di Monas. Halaman muka Kompas bersih dari foto, apalagi berita peristiwa spesial tersebut.

Setelah dibuka satu persatu, peristiwa yang super penting itu ternyata terselip dihalaman 15 dengan judul “Reuni Berlangsung Damai” Kompas hanya memberi porsi berita tersebut dengan lima kolom kali seperempat halaman, atau sekitar 2.500 karakter. Tidak ada foto lautan manusia yang menyemut dan memadati kawasan Monas dan sekitarnya.

Bagi harian Kompas peristiwa itu tidak penting dan tidak ada nilai beritanya (news value). Halaman 15 adalah halaman sambungan, dan topiknya tidak spedifik. Masuk berita dibuang sayang. Yang penting ada, karena itu namanya halaman ‘umum’. Masih untung pada bagian akhir Kompas mencantumkan keterangan tambahan.

Kompas memilih berita utamanya dengan judul “Polusi Plastik Mengancam.” Ada dua berita soal plastik, dilengkapi dengan foto seorang anak di tengah lautan sampah plastik dalam ukuran besar. Seorang pembaca Kompas yang kesal, sampai membuat status “Koran Sampah!”.

Halaman muka Harian Media Indonesia milik Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh juga bersih dari foto dan berita Reuni 212. Mereka memilih berita utama dengan judul “ PP 49/2018 Solusi bagi Tenaga Honorer.”

Harian Sindo Milik Ketua Umum Partai Perindo Hary Tanoe memilih berita utamanya “ Pesona Ibu Negara di Panggung G-30” dengan foto-foto mereka dalam ukuran besar. Koran Tempo memilih berita utama “Menuju Ekosistem Digital” yang ditampilkan dalam seluruh halamannya.

Hanya Koran Rakyat Merdeka, Republika yang memuat berita dan foto peristiwa Reuni 212 di halaman muka. Rakyat Merdeka menulis Judul “212 Makin lama, Makin Besar Kenapa Ya?.” Republika menulis Judul “Reuni 212 Damai.” Sementara Harian Warta Kota memuat foto lepas, suasana di Monas dengan judul berita yang dengan berita utama yang sangat besar “Ketua RW Wafat Usai Reuni.”

Agenda Setting

700 Covid FB
Dengan mengamati berbagai halaman muka media, kita bisa mendapat gambaran apa terjadi di balik semua itu? Media bersama kekuatan besar di belakangnya, tengah melakukan agenda setting.

Mereka membuat sebuah skenario menenggelamkan peristiwa Reuni 212, atau setidaknya menjadikan berita tersebut tidak relevan.

Operasi semacam ini hanya bisa dilakukan oleh kekuatan besar, dan melibatkan biaya yang cukup besar pula.

Target pertama black out sepenuhnya. Jangan sampai berita tersebut muncul di media. Untuk kasus pertama ini kelihatannya tidak ada media yang berani mati dan mengabaikan akal sehat.

Reuni 212 terlalu besar untuk dihilangkan begitu saja. Kasusnya jelas berbeda dengan unjukrasa Badan Eksekutif Media Se-Indonesia (BEMSI), dan ribuan guru honorer yang berunjuk rasa ke istana beberapa waktu lalu. Pada dua kasus itu mereka berhasil melakukan black out.

Target kedua, kalau tidak bisa melakukan black out, maka berita itu harus dibuat tidak penting dan tidak relevan. Apa yang dilakukan Kompas, dan Media Indonesia masuk dalam kategori ini.

Target ketiga, diberitakan, namun dengan tone yang datar dan biasa-biasa saja. Contohnya pada Republika. Meski dimiliki oleh Ketua Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf, harap diingat latar belakang koran ini adalah milik umat. Tidak mungkin mereka menempatkan berita ini di halaman dalam, apalagi menenggelamkannya.

Bisa dibayangkan apa yang terjadi, bila Republika berani mengambil posisi seperti Kompas? Ketika Erick memutuskan bersedia menjadi ketua tim sukses saja banyak pembaca yang sudah mengancam akan berhenti berlangganan. Apalagi bila sampai berani melakukan black out dan framing terhadap berita Reuni 212. Wassalam.

Target keempat tetap memberitakan, tapi dengan melakukan framing, pembingkaian berita. Reuni memakan korban. Contohnya adalah Warta Kota yang membuat judul “Ketua RW Wafat Usia Reuni.” Berita ini jelas terlihat sangat dipaksakan. Satu orang meninggal di tengah jutaan orang berkumpul, menjadi berita yang menarik dan penting? Sampean waras?

Hal yang sama jika kita amati juga terjadi di media online dan televisi. Hanya TV One yang tampaknya mencoba tetap menjaga akal sehat di tengah semua kegilaan. Mereka masih memberi porsi pemberitaan yang cukup layak dan melakukan siaran langsung dari Monas.

Tidak perlu orang yang punya pengalaman di media untuk memahami semua keanehan yang kini tengah melanda sebagian besar media arus utama Indonesia.

Berkumpulnya jutaan orang dari berbagai penjuru kota di Indonesia, dan juga kota-kota dunia di Lapangan Monas, apalagi pada masa kampanye, jelas merupakan berita besar. Tidak alasan untuk tidak memuat, apalagi mengabaikannnya.

Bagi kalangan media peristiwa itu jelas memenuhi semua syarat kelayakan berita. Mau diperdebatkan dari sisi apapun, pakai ilmu jurnalistik apapun, termasuk ilmu jurnalistik akherat, atau luar angkasa (kalau ada), Reuni 212 jelas memenuhi semua syarat.

Luasnya pengaruh (magnitude), kedekatan (proximity), aktual (kebaruan), dampak (impact), masalah kemanusiaan (human interest) dan keluarbiasaan (unusualness), adalah rumus baku yang menjadi pegangan para wartawan.

Permainan para pemilik dan pengelola media yang berselingkuh dengan penguasa ini jelas tidak boleh dibiarkan. Mereka tidak menyadari sedang bermain-main dengan sebuah permainan yang berbahaya. Dalam jangka pendek kredibilitas media menjadi rusak. Masyarakat akan kehilangan kepercayaan. Mereka akan ditinggalkan.

Di tengah terus menurunnya pembaca media cetak, tindakan itu semacam bunuh diri, dan akan mempercepat kematian media cetak di Indonesia. Dalam jangka panjang rusaknya media dan hilangnya fungsi kontrol terhadap penguasa, akan merusak demokrasi yang kini tengah kita bangun.

Masyarakat, aktivis, wartawan, lembaga-lembaga kewartawanan seperti PWI, AJI, IJTI, maupun lembaga-lembaga seperti Komisi Penyiaran Indonesia, dan Dewan Pers tidak boleh tinggal diam. Terlalu mahal harga yang harus dibayar bangsa ini, karena medianya larut dalam konspirasi dan dikooptasi.

Loading...

Baca Juga