oleh

Tidak Semua Orang Bisa Dipercaya

Karena itu aku terus diyakinkan agar jangan pernah mau percaya dengan semua janji seperti yang diucapkan para penguasa dan politisi saat kampanye atau ketika memerlukan dukungan dariku.

Saat mengucap sumpahpun jangan sampai terkecoh, sebab Tuhan saja bagi dia sudah dijaladikan bagian dari permainan.

Agaknya, inilah penyebabnya Pancasila pun menjadi tidak punya arti apa-apa, kecuali cuma untuk berlindung dan gagah-gagahan semata.

Nilai luhur dari perkawanan tidak bisa meningjlkat jadi ikatan persaudaraan. Semua selalu dikalkulasi oleh semboyan kapitalism yang senantiasa ada dikejauhan sana, bahkan menjadi hantu bagi yang percaya pada Pancasila.

Ketuhanan Yang Maha Esa sekedar pemanis bibir.

Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab dijadikan tameng untuk menindas.

Persatuan Indonesia telah dijadikan slogan benteng pertahanan dari sikap dan tabiat tamak, egoism, individualistik, dan kemaruk agar bisa menggagahi saudara sendiri.

Sikap merakyat sudah menjadi pembungkus citra, agar bisa mempesona rakyat untuk melepas daulat sepenuhnya dari genggaman.

Tidak ada musyawarah, tidak ada gotong royong, yang satu dengan yang lain terus rangsang untuk saling bersaing. Maka korupsi pun jadi trendy, tanpa rasa risi dan tiada rasa malu serta tetap merasa punya harga diri dan gengsi — bahkan martabat — yang tinggi.

Karenanya mereka tetap yakin dan percaya diri tampil pongah di habitat manapun, termasuk dalam lingkungan kalangan ummat agama.

Hingga pada akhirnya, hakikat dari keadilan sosial tergulung dengan sendiri oleh tingkah polah serta sistem nilai yang sepatutnya tetap terbingkai dalam figura indah moral serta etika manusia yang bermartabat.

Banten, 5 May 2018

Oleh: Jacob Erete

Loading...

Baca Juga