oleh

Menumbuhkan Semangat Juang Para Remaja. Opini Naila Ahmad

Menumbuhkan Semangat Juang Para Remaja. Oleh: Naila Ahmad Farah Adiba, Siswi SDII Luqman Al-Hakim 02 Batam.

Teman-teman, apa yang kalian rasakan selama masa LFH? Jenuh? Bosan? Sudah tentu iya. Semua akan merasakan hal yang serupa tatkala berbulan-bulan belajar dari rumah.

Lantas, bagaimana kita menyikapi rasa bosan yang berkepanjangan ini? Kita harus bijak dalam menyikapi segala sesuatu. Sebab, jika tidak, maka akan berujung pada kesia-siaan. Mengapa demikian? Karena selama bulan Ramadhan saja, yang seharusnya diisi dengan kegiatan yang bermanfaat dan amal ibadah, nyatanya masih banyak para remaja yang keluyuran tidak jelas. Nongkrong-nongkrong, campur baur laki-laki dan perempuan, foto selfi, tertawa dan mengumbar auratnya.

Hal ini bukan berdasarkan cerita lalu, melainkan nampak dengan mata kepala langsung. Apakah kalian menyadari bahwa hal yang demikian itu bukanlah karakter seorang muslimah? Tapi begitulah adanya, remaja sekarang cenderung santai dan lebih senang berfoya-foya. Mereka lebih memilih bermain bebas daripada harus belajar ilmu agama Islam.

Bahkan, mereka sangat enggan dan tidak tertarik jika diajak ke majelis ilmu. Apalagi yang namanya pengajian, seperti alergi mendengarnya.

Padahal, kita tahu betapa banyak kebaikan yang ada dalam majelis ilmu. Sayangnya, meski biaya pengajian gratis, tapi tetap saja tidak menarik perhatian mereka. Berbeda halnya jika diajak jalan-jalan, langsung tanpa banyak berfikir meskipun harus mengeluarkan biaya besar.

Itulah potret kebanyakan remaja muslim zaman sekarang. Maunya hidup enak, enggan untuk berfikir. Jangankan berfikir untuk berjuang, semangat untuk belajar aja kurang. So, mau dibawa ke mana masa depan generasi kita?

Lalu yang menjadi pertanyaan, mengapa para remaja sekarang lebih senang hidup bersantai-santai saja? Lebih suka berfoya-foya? Ada beberapa penyebab. Di antaranya karena pendidikan pertama yang didapatkan yaitu lingkungan keluarga, khususnya seorang ibu, tidak memadai. Padahal, ibu adalah sekolah dan guru pertama dan paling utama bagi anak-anaknya.

Kemudian, adanya ghazwul fikri, yaitu perang pemikiran yang di gencarkan oleh Barat kepada generasi muslim agar mereka berkiblat ke Barat. Saat ini, itu semua sudah menguasai pribadi remaja muslim. Terlebih lagi sistem sekulerisme liberalisme di kehidupan sekarang ini membuat generasi muda semakin bebas berperilaku.

Lalu bagaimana mau menjadi panglima pembebas Al-Quds, kalau semangat juang aja tidak ada di dalam diri para remaja saat ini. Padahal Palestina, Roma, dan negri-negri lain yang tertindas sedang menunggu kalian, wahai ksatria Islam.
Nah, apakah Islam punya solusi terhadap masalah remaja saperti saat ini? Sudah barang tentu. Islam adalah solusi untuk semua permasalan umat ini.

Islam memberikan contoh-contoh terbaik para ksatria Islam. Contohnya adalah Sultan Muhammad Al-Fatih yang menaklukkan kota adidaya terbesar di masanya yaitu Konstantinopel di usia yang baru berumur 21 tahun, ada juga Usamah bin Zaid yang memimpin armada perang terbesar di usia yang baru menginjak 17 tahun.

Tak ketinggalan, Shalahuddin Al-Ayyubi sang penakluk Al-Quds yang berjiwa pemaaf, juga ada khalid bin Walid sang pedang Allah yang terhunus, Alp Arslan sang penakluk Anatolia (Turki bagian Asia), dan tentunya masih banyak lagi ksatria Islam terdahulu yang bisa dijadikan teladan oleh remaja saat ini.

Oleh karena itu saatnya menyadarkan mereka dengan mengubah pemikiran melalui kajian-kajian ilmu (halqoh). Kalo untuk saat ini tidak memungkinkan untuk bertatap muka langsung, maka fasilitas gadget bisa dioptimalkan untuk berdakwah dan di kemas cantiq supaya tidak terkesan eksklusif. Dengan pembinaan yang rutin diharapkan para remaja saat ini sadar dan bangkit semangat nya dan menjadikan ksatria Islam terdahulu sebagai teladan dan mengikuti jejaknya. Aamiin. Wallahu ‘alam bisshawab.

Loading...

Baca Juga